“Kamu pake helm ini aja lah,biar ga kedinginan juga” tawarku ke Falah. “Udah nanti aja ganti helmnya” jawab Falah. Sampai di Sidoarjo Falah meminta helm full face yang aku pakai akhirnya kita menukar helm. Kita sudah jalan selama 1,5 jam, “masih berapa lama lagi lah ?” tanyaku, “masih jauh saa, ini belum ada setengahnya” jawabnya. Setelah helm sudah ditukar, kita kembali melanjutkan perjalanan. “itu tanggul lumpur lapindo sa” tunjuk Falah ketika kami melewati jalan di pinggiran tanggul. Cukup sedih mengingat banyak rumah warga yang tenggelam karena lumpur dan sampai saat ini seingatku ganti ruginya dinilai belum adil. Sampai di daerah pasuruan udara mulai terasa dingin dan Falah kembali berhenti untuk mengisi bensin sekaligus memakai sarung tangan. Bekal kami mulai kami makan. Setelah urusan toilet selesai kita kembali melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan kami melihat banyak orang yang menuju bromo dengan motor, sama seperti kami, terlihat dari pakaian dan barang bawaan mereka. Kami juga bertemu dengan geng yang suka memacu kendaraannya dengan cepat. Falah mencoba menyamai kecepatan mereka yang akhirnya kita yang tertinggal karena memang motor mereka lebih cepat, kamipun tertawa di sepanjang “balapan” itu. Jalan lurus dan penuh dengan kendaraan besar berakhir ketika kita harus belok kanan untuk menuju kawasan gunung bromo. Entah kenapa jalanan jadi begitu sepi, padahal kami tadi melihat beberapa pengendara motor yang kami pikir mereka juga ke bromo. Aku melihat ke belakang “lah kita sendirian nih di jalan, depan belakang kosong, ga ada kendaraan” “santai aja saa, ga usah takut” ejeknya “yeee siapa yang takut broo” jawabku. Seperti biasa sepanjang perjalanan kami ngobrol, bercanda, diam, tertawa. Akhirnya kami menemukan keramaian, barisan mobil jeep sepertinya menunggu pelanggan yang mau menyewa. Motor berhenti, “kenapa lah?” tanyaku, “pengen kencing nih, kencing dimana ya, hmm di rumah warga aja yang ada air” setelah dempat mencari, “rumah warganya masih pada tutup nih, yaudah lanjut aja”. “Bentar lah aku mau pake jaket lagi, dingin banget” aku mengambil jaket dari tas yang di pakai Falah. Kebetulan ada penjual sarung tangan yang mendatangi kita, akhirnya aku beli sarung tangan seharga 10.000 rupiah dan kami melanjutkan perjalanan. Sampai pintu gerbang, kami turun untuk membayar tiket seharga 10.000 rupiah per orang dan tiket masuk motor 3.000 rupiah. Setelah portal dibuka kami lanjutkan perjalanan dan ternyata sudah terjadi antrian kendaraan. Persis seperti di Jakarta, bedanya di sini udaranya sangat dingin. Kami berjalan melalui sela – sela mobil. Bintang pada saat itu bertaburan dan sangat bagus, tidak ada mendung sedikitpun sehingga semua bisa terlihat.
akhirnya kita sampai di pintu padang pasir gunung Bromo, dengan bismillah kita masuk ke padang pasir. Awalnya arah masih terlihat jelas dan ramai. Di sepanjang padang pasir, motor kami sering terselip hingga kami hampir jatuh. Beberapa kali aku harus turun untuk mendorong motor karena terperosok di pasir. “ini jalannya kemana ya, kayanya dulu aku ga lewat sini eh” kata Falah. Kami berhenti sejenak untuk melihat keadaan yang kami lihat hanya gelap dan beberapa pengendara motor serta mobil jeep yang melewati kami. “kalo kita ikutin mobil jeep aja gimana lah ? mereka pasti tau kan jalannya” saranku. Akhirnya kita mengikuti mobil jeep dan kita kaget ternyata beberapa jeep arahnya berbeda, kami kembali berhenti. Kami melihat ada 1 mobil biasa yang berhenti, aku turun dan tanya ke pemilik mobil, “mas kalo ke pananjakan ke arah mana ya ?” “wah saya juga ga tau mas, ini saya juga bingung mau kemana” jawabnya, setelah berterima kasih aku balik ke Falah. Kami sempat diam sembari istirahat. Akhirnya kita lanjutkan perjalanan gelap itu mencoba mengikuti jeep lagi dan ternyata mobil serta beberapa pengendara motor mengikuti kami. Beberapa kali kami berhenti karena kelelahan. “udah lah ga usah dilanjutin gapapa, di sini aja kayanya cukup” ujarku ke Falah karena aku melihat dia kelelahan, dan aku pun sudah lelah dan kedinginan. “tanggung kali sa udah sampe sini, ngapain di sini doang” jawabnya “tapi aku ga enak bro, udah ga gantian nyetir motornya juga” ujarku “santai aja sa” jawabnya.
“akhirnya ketemu !!, kamu liat ga itu ada lampu kendaraan di atas, itu ke pananjakan” tunjuknya. Kami pun sampai di ujung padang pasir, kita berhenti untuk menarik nafas karena kata Falah jalanannya terjal. “aku takut nih bensin kita ga cukup, tadi ga ngisi di pom bensi terakhir” kata Falah “bismillah” kataku. Falah memacu motor kencang dan masuk ke tanjakan, dan Alhamdulillah kita bisa melewati tanjakan pertama dengan sukses. Jalanan sudah lebih baik karena sudah diaspal, sangat berbeda dengan padang pasir tadi, cuma jalan di sini berkelok – kelok dan gelap. Jalanan kita lalui lancar sampai kami harus melambat gara – gara jalanan penuh dengan orang yang berjalan. “Kita udah hampir sampai nih” kata Falah. Akhirnya kita sampai dan kita memarkirkan motor. Aku membeli topi saat itu karena udaranya sangat dingin, akhirnya aku membeli topi abu – abu seharga 15.000 rupiah. Saat itu jam menunjukan pukul 04.30 WIB. Kita menaiki anak tangga dan sampai di titik yang paling tinggi. Di sana sudah penuh dengan orang sehingga kita tidak bisa berdiri di paling ujung dimana itu adalah spot terbaik untuk melihat semua pemandangan.
Kami berdiri di tengah kerumunan orang. Aku tidak bisa melihat ke depan karena orang di depanku cukup tinggi. Kami merasakan ada bangku di sekitar kami, tapi kami harus berdiri di pinggiran bangku, dan berdiri di situ tidak bisa stabil. “udah kamu naik aja pegangan pundaku sa biar keliatan” kata Falah, “kamu ga bisa liat dong bro” kataku, “aku kan udah pernah, kamu yang belum pernah kan” Kata Falah. Akhirnya aku naik dengan perpegangan. Dan ketika aku lihat pemandangannya, aku hampir tidak bisa berkata – kata, dingin yang aku rasakan seketika seperti pudar, diganti dengan rasa kagum akan keindahannya. Di sana terlihat garis berwarna jingga yang menandakan matahari akan segera muncul. Garis yang sangat panjang dan indah. “Pegangin kakiku lah, aku mau foto” kataku. Aku ambil handphone di tas kecil yang aku bawa dan mulai mengabadikan keindahan alam yang tidak sering aku jumpai. Aku turun dan mulai menyelinap ke barisan depan. Akhirnya kita mendapatkan barisan paling depan, walaupun agak menyamping, tepatnya di depan toilet yang memang masih tutup.
Kembali bibir ini dibuat tersenyum oleh alam yang memamerkan keindahannya. Sang Matahari, pembuat garis jingga tadi, akhirnya muncul dari persembunyiannya, menunjukan keperkasaannya, bulat dan terang. Kembali aku dibuat terdiam karena kagum. Hampir aku menangis melihat keindahan itu, mengingat perjuangan kami ke sini tidak lah mudah. Aku mengambil beberapa gambar dengan handphone, selanjutnya aku menikmati pemandangan itu dengan mata sendiri, bukan dengan lensa kamera. “lah fotoin aku backgroundnya matahari, gapapa backlight juga” pintaku ke Falah. Kembali aku nikmati pemandangan yang tidak biasa itu.
Kermunan orang berangsur – angsur berkurang, tapi kami tetap di tempat itu untuk menikmati pemandangan yang indah ini. Sampai akhirnya kita turun untuk makan baso dan minum kopi, cukup menghangatkan. Selesai makan matahari sudah tinggi dan tempat tadi sudah mulai sepi dan kita kembali ke spot tadi. Kembali aku dibuat diam dengan indahnya pemandangan. Matahari membuat semuanya tampak jelas, sebelumnya hanya terlihat hamparan berwarna hitam. Kini semua terlihat dengan jelas, tanpa tertutup kabut. Di sana terlihat beberapa gunung yang bergerombol, salah satunya gunung bromo. Di sekitar gunung tersebut ada awan yang menyelimuti. Berada di pananjakan berasa seperti berada di atas awan. Pemandangan yang sangat indah, kembali saya terdiam menikmati pemandangan itu. Kagum, terharu, bersyukur, puas, semua rasa bercampur saat itu, memang perjalanan yang berat akan menghasilkan pencapaian yang tidak biasa. Kembali saya abadikan pemandangan itu dengan kamera handphone. Ternyata selama aku mengambil beberapa gambar, Falah duduk di bangku beristirahat. “aku udah nih foto – fotonya, kamu mau foto – foto bro ?” tanyaku dan dia mengiayakan, akhirnya gantian aku yang duduk. Aku berbaring di bangku untuk tidur sejenak sampai akhirnya Falah membangunkanku dan kita turun. “mau ke bromo sa ? aku anter deh, tapi ga tau aku ikut naik apa engga” tanyanya, “boleh, tapi engga juga gapapa kok, tadi udah bagus banget” jawabku. Kita mengambil motor dan mulai turun.
Sepanjang perjalanan turun, mesin motor dimatikan dan dibiarkan saja berjalan karena berat dan gaya gravitasi. Sampai akhirnya kita menemukan bensin eceran, kita beli bensin yang harganya selangit itu, 10.000 rupiah per liternya. Kita beli 3 liter. Kembali kita “menggelinding” menuruni pananjakan. Kita sampai di sebuah bukit dimana kita bisa melihat gunung bromo dari situ, kita berhenti sebentar karena bagi kita tidak terlalu menarik dan sudah banyak orang di sana. Kita lanjut turun sampai akhirnya sampai di padang pasir. “oh begini toh bentuknya padang pasir bromo, semalem ga keliatan apa – apa” dalam hati. Perjalanan terasa lebih mudah karena arahnya jelas, tapi tetap beberapa kali kami terperosok. Kami sampai di bromo, kita mulai menanjaki bromo, beberapa kali Falah harus berhenti dan menariku. Akhirnya kita sampai di puncak bromo dan melihat kawah yang berasap. Setelah puas dengan bromo dan istirahat, kami kembali turun menuju motor. Perjalanan kembali dilanjutkan sampai akhirnya sampai di pintu keluar padang pasir.
Udara sejuk menerpa kami membuat kami menjadi semakin mengantuk. Saya sempat beberapa kali tertidur di atas motor dan membuat motor oleng. “jangan tidur bro !” kata Falah sambil menepuk lututku. Perjalanan terasa sangat jauh dan mata sudah sangat ngantuk. Akhirnya kita sampai di Surabaya dan kita mampir di restoran makanan cepat saji, setelah makan kita lanjutkan perjalanan ke kos Falah. Di kos kita bersih – bersih dan langsung tidur. Dan perjalananku ke bromo berakhir sampai di sini.
Ada 2 hal yang membuat saya bahagia di perjalanan ini.
Yang pertama, saya menemukan sahabat. Sahabat yang rela berkorban untuk membuatku senang. Sahabat yang bisa menguatkan saat aku ingin menyerah. Sahabat yang penuh kejutan. Sangat bersyukur bisa mengenal Falah, dan semoga perjalanan kita tidak hanya sampai di sini. Yang kedua, saya semakin menyadari keindahan alam Indonesia yang tidak ternilai harganya. Bahwa Indonesia mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Bahwa Indonesia memiliki keindahan yang tidak bisa diremehkan. Membuat saya yakin, rakyat Indonesia tidak pantas miskin di tanah sekaya ini. Membuat saya ingin membuat rakyat bisa bangkit dan tidak lagi miskin mental, miskin pendidikan, miskin harta, miskin kesehatan, dan miskin lainnya. Negeri ini bagaikan hamparan berlian, tinggal bagaimana kita memanfaatkan hamparan berlian ini.
Terima kasih Tuhan telah mempertemukan saya dengan seorang sahabat yang sangat baik. Terutama terima kasih Tuhan telah mempertemukan saya dengan salah satu keindahan yang Kau ciptakan. Keindahan yang bahkan teknologi secanggih apapun tidak bisa menciptakannya. 🙂
Semoga tulisan ini bisa mengenang perjalanan yang indah itu.

Tas tempat perbekalan kami

Garis jingga yang membentang




Matahari akhirnya menampakan tubuhnya



Keindahan Indonesia ketika matahari sudah menyinari


My bestfriend ever, the one who I share my happiness and sorrow with, beside my family

Kawah gunung bromo

Makanan sederhana yang terasa begitu enak saat itu